Monthly Archives: May 2006

– Sewindu 12 Mei –

Standard

“Mari kawan, singsingkan lengan baju, kita perjuangkan keadilan!”
duh, inget kata2 itu lagi. Hm, besok tanggal 12 mei adalah delapan taun tragedi trisakti. hari ini ada acara aksi damai di kampus. dress codenya merah (untung kemaren gw ga jadi pake baju merah…).
besok ada aksi turun ke jalan sepert taun2 sebelumnya.
terakhir saya ikut yang peringatan ke 5 taun tragedi trisakti. waktu itu di Istana Negara. saya masih sanggup deh ikut partisipasi.

Tapi sekarang, personally, maaf untuk Deciana Napitupulu, saya tidak bisa ikut aksi damai besok, karena dalam 4 hari ini blok plan saya diacak-acak sama 3 mentor. saya jadi memutuskan untuk tidak masuk studio besok…maaf. emang paling engga banget alasan akademis macam gini. andai saya bisa dibelah… (kalo loe mau bikinin dari blokplan, groundplan, sampe interiornya,,,hehe).

Maka saya akan mendukung dengan doa. Empat taun lalu saya ziarah ke makam Elang Mulya Lesmana, dan mengunjungi kamar Hafidin Royan, yang dijadikan museum. Saya nggak bisa bayangin kalo dia adalah abang saya sendiri, kacaunya kaya apa perasaan saya. Mungkin saya gak akan pernah rela dengan perlakuan pemerintah terhadap apa yang terjadi. Saya pernah bertemu dengan ibunya Hendriawan Sie, dan nggak bisa bayangin pula gimana perasaannya.

Duh, banyak ketidakadilan di sekitar kita. Banyak sistem yang enggak kita pahami.
in my opinion,
ketika kita tidak nyaman dengan sebuah sistem yang berkuasa atas kita, maka keluar dari sistem itu. keluar dari lingkaran.
pelajari dan pahami sistem dari luar karena sudut pandang kita akan lebih luas.
lalu kembali masuk ke dalam sistem, dan perbaiki sistem dari dalam. Akan lebih mudah, karena kita sudah memahaminya.
intinya, jangan menilai sesuatu yang tidak kita pahami. Wasting time.

Rekan-rekan, saya tidak paham politik.
yang saya pahami adalah, Keep Figting.
Stand up for what we believe in. For the truth will reveal at last.

Semangat!

Advertisements

Mayday..mayday..traffic report dong…

Standard

“Bo, jalanan mana yg kaga ditutup?”

“macet ga sih?”

“Semanggi bisa dilewatin ga?”

yah, kira2 itulah pertanyaan2 yang sering terlontar dari hari Senin. Iya, menyambut hari buruh tanggal 1 kemarin, ceritanya ada demonstrasi besar2an di Jakarta. Lokasi tepatnya dimana, saya kurang tau. Yang pasti, siang2 kata temen saya jalur ke UKI udah ditutup.

Saya mikir, kalo maksa pulang lewat tol dalam kota, macetnya kaya apa? Kalo mau naik kereta,,hm, ke stasiun kota ato juanda, ato gambir? Naik transjakarta (aka busway) dari halte jelambar, pas rush hour,,pasti kayak tuna (klo badan gw segede Ade Ray si ga masalah), trus lewat monas, wah, makasih deh. Lagipula hari Senin kmrn saya puasa, bawa backpack, gulungan kertas A1, dan toolbag (temennya tool box, isinya alat tempur gambar. Campur pelembab, lotion, lipbalm. tapi mau gw pisah, krn mulai ketuker antara lipbalm gw sama lem UHU stik. darn.)

Maka setelah kelar kelas 3D Max, saya menginap ke rumah Maya, kawan saya yang baik hati serta tidak sombong. Naik angkot, aman, soalny lewat Daan Mogot, ga ada urusan sama lokasi demo (tapi tetep aja gw jatoh di angkot pas turun. jgn ditanya kronologisnya gmn, gw jg lupa, yg pasti gw nyusruk ke org yg duduk di dpn gw).

Besoknya, denger2 jalanan tuh lancar pas hari senin kemaren.. Darn. Tau gitu saya pulang aja.

Nah, hari Selasa tanggal 2 Mei kan HARDIKNAS, saya bela2in pulang ke bogor, karena yakin ga macet. Hore! emang jalanan lancar…

Tapi hari ini, Rabu, 3mei, saya niat nginep di rumah Maya (lagi. Masih Maya yang sama, yang baik hati, tidak sombong, serta rajin menabung :D), karena mau ke toko buku Aksara yang di Kemang, ada pemutaran film MVRDV.

Eh, ternyata ada kerusuhan (Senayan rusuh, pager gedung MPR rubuh, jalan tol ditutup, Semanggi-Slipi-Tomang ditutup), tapi, saya gak dapet informasi yang meyakinkan dari tv or radio. Taunya cuma dari telpon teman2 yang bernasib naas, kejebak di kemacetan (duh, eja, gw ga ngerti gimana critanya lu dari arah mampang dilempar ke tanah abang,…). Dan, kayanya ribet juga kalo mau ke Aksara, karena, katanya, jalanan ke selatan banyak yang ditutup.

Ya sudah. Saya, Deciana, dan Laura berakhir dirumah Maya (tetap sesuai deskripsi di atas, ditambah ‘murah hati). Again. karena alasan yang sama: ga bisa pulang karena ada demonstrasi. Jakarta oh Jakarta.

Yak,,,kembali ke meja gambar…

Salah banget…salah abis…

Standard

Salah banget…salah banget…

Asistensi sama Bu De**s, tapi malemnya abis begadang (dan dua malam sebelumnya juga..). otak saya kosong. Blank abis. Man,,,belum makan seharian, trus saya jadi kunang2 saking pusingnya, gabungan lapar dan ngantuk.

Lagi kunang2 gini ditanya, “gmn nyambung baja sama beton…”, “coba cari material baja akustik…”, “pelajari filosofi Reichstag, Parliament Building yangg di Jerman..”

Yang paling nampol, “Warna kontras dari merah apa? Masa kamu udah gede masih ga tau? Kontrasnya merah itu biru, kontrasnya kuning itu ijo. Itu kan warna teletubbies. Anak kecil aja tau..”

Well, first, saya g.a.k  p.e.r.n.a.h sekolah TK, jadi biar udah gede, saya ga tau siapa kontras sama siapa. Kedua, saya lebih suka nonton spongebob squarepants, dan cuma 2 warna yang mendominasi, kuning dan pink.

Malemnya saya hibernasi. Trus telat bangun, jadi ga dpt absen pagi. Dan tidak produktif pula. Tapi teman2 di studio selalu menjadi hiburan. Sebelum pulang, pasang musik  Bossanova Disney..lalu si Bang Lai joget2 ala hawai (bayangin Bang Lai,,,pake topi yg ada buah2an nanas, apel, dkk, trus pake kemben, rok rumbai2, menari welcome dance spt wanita hawai, trus di improve dgn gerakan tari broadway..) Aaaaalooohaaa….

ERR…

Standard

To all of the days in October,

Sorry for being a trouble maker

I didn’t mean to be an in discipliner

I just tried to be a seeker

For my self to find a ruler

Inside me to make things in the right order

I dig in to the depth of my inner

And found the day sleeper

I move slowly unlike the robber

Or maybe I was a late bloomer?

But don’t worry, cause I’m still sober

Promise I’ll be better

In the next November

November 2, 2002

9.50 pm

ON THE HORIZON

Standard

Horizon means no boundary

Just look at it once,

And you will see the whole

No matter how far you run

It will always accompany you

On the horizon

I release all my pain

I shed all my tears

Then I will see the light of my life

On the horizon

I free all my feelings

I broaden my view

Then I will see the reasons of everything.