Racist People..masih ada aja, yah?

Standard

Hmm, sebelumnya saya mohon maaf kalau blog ini mengandung sdikit unsur SARA, tapi sungguh bukan itu maksud yang ingin saya sampaikan. Justru karena saya concern terhadap kasus diskriminasi di luar negara Indonesia.

Pengalaman diskriminasi ini saya alami ketika sedang bersama kakak saya di sebuah pusat perbelanjaan di salah satu negara di Asia Tenggara.

Awalnya saya kaget dengan perlakuan orang yang diskriminatif itu – mari untuk selanjutnya kita sebut doi  “racist person”-, tapi saya diberitahu oleh kakak saya, bahwa dia udah biasa menghadapi hal2 diskriminatif seperti itu di luar negeri. Kakak saya sudah tinggal di negara asing ini hampir setahun. Sama seperti saya, dia juga sempat kaget diperlakukan berbeda oleh orang, hanya karena penampilan yang berbeda, memakai jilbab, dan tidak tampak seperti seorang hebat atau menonjol secara finansial.

Salah satu pengalaman yang kurang menyenangkan adalah ketika kakak saya kembali ke negara tersebut, dengan menggunakan armada pesawat T**I Airways. Saat itu dia hanya bersama putranya yg berusia tiga tahun. Seperti biasa, ketika di pesawat, kita diberi arrival card oleh steward dan stewardess untuk diisi. Saat kakak saya sedang mengisi card tersebut, putranya a.c.c.i.d.e.n.t.a.l.l.y memencet tombol di kursi utk memanggil steward. Kakak saya tidak mengetahui perbuatan anaknya, sehingga dia kaget ketika ada seorang steward yg menghampiri.

Dan lebih kaget lagi ketika steward tersebut berbicara dengan suara keras kepada kakak saya..bisa dibilang, marahin kakak saya, dengan wajah yang didekatkan ke wajah kakak saya..sambil mengucapkan kata2, “Mam, do you know that this button is only for emergency case only? please mind your child!this is not a toy..” bla..bla..bla, dan tanpa menunggu pria awak pesawat tersebut selesai berbicara, kakak saya memotong, “Okay, i’m sorry, i understand what’s the button for. I’m sorry that i did not notice what my son did, cause i was filling this arrival card. You dont have to yell at me, or mad at my son. He’s just 3 years old. Okay, i already said sorry, you dont have to yell no more.”

Yah, secara logika, what do you expect from a 3 years old toddler? dia gak rewel aja udah untung, apalagi 4 jam d pesawat. Setelah itu, setiap stewardress lewat utk menawarkan minuman, kakak saya hanya dilewati, tanpa ditawari. Sungguh tidak profesional. Memperlakukan kakak saya secara berbeda, padahal dia dan putranya membayar harga tiket pesawat yg sama dengan penumpang lain *bisa lebih murah atau mahal sih, tergantung bookingnya kapan :D*. Mungkin awak pesawat itu mengira kakak saya seorang TKW yang tidak mengerti bahasa Inggris. Tapi,,kalaupun memang kakak saya seorang TKW, so what?? TKW juga manusia, kan? ga ada yg berhak men-judge seseorang lebih rendah dari diri manusia yang lain,memangnya dia Tuhan?

Itu cuma salah satu contoh kecil perlakuan yg kurang menyenangkan. Dalam kehidupan sehari2 di ibu kota negara tersebut juga kakak saya kadang mengalami sikap “aneh” orang. Di kota ini, kebanyakan penduduknya adalah kaum ekspatriat dari negara barat, atau negara asia lainnya. Kalau sedang berbelanja di pusat perbelanjaan, kadang pegawai tempat belanja tersebut bersikap ramah terhadap anak kakak saya, tapi setelah mengetahui penampilan, pakaian, dan jilbab ibunya , sikap pegawai tersebut jadi berubah 180 derajat, bahkan ketus menegur anak kakak saya jika ia iseng memegang buah atau sayuran di rak. Hanya memegang, ya,,bukan tindakan anarkis seperti adegan dalam film Dennis The Menace..

seperti kemaren, saat sedang mengantri di kasir, kereta belanja saya tidak sengaja menabrak seorang lelaki usia skitar 40an di antrian depan, saya langsung minta maaf. Dan sungguh reaksi yang didapat di luar dugaan saya, dia nyerocos dengan ketus dalam bahasa Inggris sambil mengangkat2 tangannya ke depan saya..Wow..sangat berlebih. Setelah itu, dia kembli nyerocos ke kakak saya. Padahal, situasi sangat ramai,,malam natal,,semua orang belanja. Toh saya hanya menabrak dengan pelan, bukan dengan kecepatan 100 km/jam..

Ah,,kadang memang kita menemui orang2 spt lelaki anonim tersebut di atas. Dikiranya kami tidak mengerti bahasa Inggris, padahal, kami mengerti kok apa yang dia katakan terhadap kami. Hanya saja kami merasa tidak perlu menanggapi lelaki tersebut.

Dalam pikiran saya, orang2 seperti itu adalah orang yang berjiwa miskin. Sangat penuh dengan rasa insecurity..Dia merasa perlu menindas orang, agar terlihat kuat, karena sebenarnya,,jauh di dalam dirinya, ia menderita krisis. See?

Kadang orang memang melihat segala sesuatu berdasarkan penampilan. Hanya bungkusnya. Ya,, itu manusiawi. Kan memang kadang manusia terlalu cepat menyimpulkan apa yang ada di depan mata mereka, padahal mungkin apa yang terjadi itu hanyalah awal dari sebuah untaian cerita panjang yang ending ceritanya belum bisa ditebak.

Setelah mengalami hal2 d atas berkali2, akhirnya saya menyimpulkan, dalam menghadapi orang atau situasi seperti itu..cuma satu yang dilakukan : BE COOL. jangan terprovokasi. Kalo kita ikut membalas perbuatan atau perkataan mereka, itu berarti kita sesuai dengan apa yang mereka kira. Mereka underestimate kita. Tujuan mereka adalah supaya kita merasa seperti apa yangg mereka pikirkan. Maka, dengan bersikap be cool,,hmm,,sorry racist people..we’re not like what you think..kalian salah sasaran.

“Appearances are deceiving, for those who only see the surface of everything.”

Peace, No Offense.

“... janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang direndahkan) lebih baik dari mereka (yang merendahkan)…” Q.S. Al-Hujurat (49:11)

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s