Focus. Not Focus. Focus. Not Focus

Standard

Satu hal yang paling saya kurang suka adalah, murid yang enggak bisa fokus di kelas. Dikasih materi apa juga enggak bakalan nangkep saking enggak bisanya fokus. Dan sialnya (atau untungnya?), di kelas pasti ada aja satu anak yang kelewat aktif, tentunya dengan skala yang berbeda2.

Ada satu anak yang mesti diingetin berkali2 untuk lihat bukunya dan bukan lihat gambar2 di dinding. Ada yang mesti disamperin baru bisa ngeh klo ada guru di kelas. Ada yang mesti beresin ‘ritual’ dulu sebelum fokus sama pelajaran. Ritual di sini maksudnya, dia biasanya bawa mainan dan mainannya harus disusun sedemikian rupa di bangkunya supaya dia yakin mainannya juga mendapat porsi pelajaran yang sama (duh?!#@$!)

Ada juga yang mesti saya tangkap (harfiah, tangkap. catch.) baru bisa duduk diam dan fokus. Ada yang mesti dipangku kalo reading session, secara ni anak beneran bikin yang lain ikutan enggak fokus. Untung anak2 yang kelewat aktif ini rata2 little EC (rentang kelas 1-3 SD, klo udah kelas 3, biasanya gerak fisik berkurang, tapi lebih pada kegiatan verbal) jadi saya masih ‘menang body’. Coba kalo badannya udah lebih gede dari saya. Wih, serem.

Kegiatan ‘kelewat aktif’ ini juga didukung oleh kondisi ‘sugar rush’ yang relatif terjadi di sore hari (kelas dimulai pukul 3.00 pm). Biasanya anak SD paling demen makan permen, coklat, jus, manisan dan segalanya yang sudah tentu manis dan mengandung gula, sehingga memicu sugar rush. Lengkaplah.

***

Tapi satu hal yang saya pelajari dari mereka: mereka fokus pada ketidakfokusan mereka. They’re constant. They focus to stay not focus. And what about me? I go the opposite direction: Saya tidak fokus terhadap fokus saya. Jangankan untuk bisa fokus, menemukan fokus hidup aja belum. Heh?

Berawal dari abis kuliah. Euphoria lulus malah bikin enggak fokus. Dalam sekejap, saya terdampar menjadi seseorang yang enggak pernah saya bayangkan sebelumnya, in terms of profession. Kok tiba2 jadi guru bahasa inggris sambil jadi desainer di perusahaan adventure equipments sambil sesekali mendesain untuk sekedar mengingat2 ilmu arsitek yang susah payah ditempuh selama 4 tahun. Inginnya mengambil satu keputusan yang spontan, tapi ternyata sekarang hidup saya dikelilingi oleh orang2 dan persoalan yang enggak bisa saya putuskan sendiri (baca: gak bisa egois).

However, saya masih memimpikan ada kejutan lagi dalam hidup. I love surprise. I love making surprise to someone even more. It’s more exciting and adrenalin-pumping than being stucked in an elevator. But I find it’s hard to find someone who is willing to make me surprised.

Hm.. kembali melanjutkan pencarian fokus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s