Monthly Archives: July 2008

Karir dot com

Standard

Dia Tak Suka Profesi Anda

Artikel ini saya ambil dari majalah wanita CHIC, edisi No. 19-II. 8-21 November 2006 (lumayan jadul..), pas lagi iseng2 baca majalah lama di ruang guru. Sebelum majalah ini diguntingi halamannya oleh supervisor saya (bukan dalam rangka destruktif apalagi vandalism, beliau sedang mengumpulkan gambar2 di majalah untuk dijadikan teaching visual aids), maka saya culik dulu sebentar karena menurut saya artikel ini bagus dan bisa membuka perspektif kita.

Happy reading!

Meski mendukung emansipasi dalam dunia kerja, para lelaki rupanya (masih) punya kriteria pekerjaan yang ideal untuk pasangannya. Coba simak perempuan dengan profesi apa yang biasanya mereka hindari.

Teks: erma dwi kusumastuti

1. Wartawan

Asril, 32, karyawan swasta

“Jam kerja wartawan tidak jelas. Memang berangkat bisa agak siang, tapi pulangnya bisa jam 12 sampai rumah, terutama di waktu deadline. Itu yang terjadi pada istri saya. Yang bikin repot kalau harus jemput malam-malam ke kantornya yang jauh itu. Padahal, saya sudah mengantuk dan harus berangkat pagi. Di hari libur, kadang dia harus masuk kerja juga karena ada liputan. Benar-benar  tak kenal waktu. Untung sejak ada anak, dia mulai mengatur waktu agar tak sering pulang malam.”

*my comment: Ladies, jadi wartawati itu enggak mudah. So keep on rocking!! (Huhu.. curahan hati pribadi –curhat colongan- setelah saya gagal seleksi wartawati salah satu malah arsitektural di Jakarta.)

2. Polisi

Derry, 33, Technical Support.

“Menurut saya profesi polisi atau tentara terlalu macho buat perempuan. Rasanya aneh melihat perempuan terlalu ‘sangar’ dan dekat dengan bahaya. Tapi ini masalah preferensi saja. Alasannya mungkin sama seperti kenapa perempuan suka lelaki berkumis.”

*my comment: yep, I guess it’s just a matter of preferences. Dunia ini seimbang, ada wanita macho, dan ada lady-like man (baca: pria kemayu).

3. Penulis naskah

Uki, 31, Akuntan

“Saya tidak suka pekerjaan perempuan yang jam kerjanya tidak teratur. Misalnya di PH (Production House) entah sebagai sutradara atau yang lainnya. Kebetulan teman dekat saya adalah penulis naskah di PH. Kasihan juga melihatnya. Kalau mau diajak kumpul susah banget. Giliran dia libur, teman-teman yang lain masuk kerja. Jadi tidak pernah bisa ketemu. Karena pacarnya keberatan, setelah menikah akhirnya dia keluar. Dia sendiri juga sudah capek dan merasa tidak bisa begitu terus kalau punya anak nanti.”

*my comment: Iiiih,.. tapi kan asik ketemu sama artis??

4. Sekretaris direktur

Budi, 28, Humas

“Jadi sekretaris direktur di tempat saya kerja ini wah capek sekali. Saya sering melihat teman saya baru pulang  jam 12 malam gara-gara menunggu dan menemani bos meeting. Memang jadwal meeting bos padat sekali. Kasihan juga sih. Saya membayangkan kalau dia pacar atau istri saya, wah repot menunggu dia pulang malam hampir tiap hari.”

*my comment: hohoho… yang ini sih mungkin udah jadi sekretaris plus plus kali yaaa.. hehehehe..

5. Perawat

Dino, 37, Product Designer

“Saya tidak terlalu suka perempuan yang kerjanya dengan shift seperti perawat atau bagian produksi. Main job perempuan itu kan pendidikan di rumah. Kalau dia kerja, pasti kerjanya lebih berat dari lelaki. Bayangkan, pulang kerja mesti mengurus keluarga, dan rumah. So kalau shift, konsepnya jadi tidak jelas.”

*my comment: DISagree! Objection! Kalau perawat kan pekerjaan mulia, selayaknya didukung. Coba kalau anda jadi seorang suami yang dengan ikhlas mendukung istrinya untuk melakukan pekerjaan mulia, bukankah anda juga (Insya Allah) ikut mendapat pahala? Lagipula, yang namanya pekerjaan rumah tangga itu bukan sekedar tugas istri semata, tapi dibutuhkan kerjasama dari kedua belah pihak (suami) untuk menjalankan rumah tangga. It takes two to Tango, so does to run a family.

6. Penyanyi klub

Santo, 29, Editor

“Pokoknya yang berhubungan dengan kehidupan malam, meskipun si perempuan tidak tersangkut paut dengan pekerjaan ‘terlarang’ itu, saya tidak suka. Misalnya waitress atau penyanyi klub malam. Saya tidak suka pekerjaan yang memberi efek negatif pada perempuan, baik secara langsung maupun tidak.”

*my comment: hm.. hm.. hm.. baiklah, untuk yang satu ini saya setuju. However, bad things are at best when it’s avoided. Cuma.. what if (sekali lagi ini hanya what if).. what if all clubs and cafes have only male waiters and singers? Apa enggak jadi kaya gay’s heaven?

7. Programmer

Dwinanto, 30, Staf IT

“Memang profesi ini membuat perempuan terlihat cerdas. Jarang lho perempuan paham soal ini. Sayang, gara-gara memikirkan program, dia jadi lupa dandan hahahaha.. Dan itu banyak saya lihat di lingkungan kerja saya.”

*My comment: Ahahaha… enggak usah programmer, klo yang namanya lupa dandan sih bisa segala profesi. Tapi, well.. Gentlemen, I think it’s time for you to see the real natural beauty, eh?? (Btw, I was about to take this major at college. Untung tak jadi, tapi itu tidak membuat saya jadi ingat dandan, saya tetap lupa dandan kalau di kantor…Hahahaha)

8. PNS

Arya, 29, Advertising

“Profesi yang satu ini terkesan, maaf, pemalas. Saya sering melihat banyak pegawai negeri perempuan sering plesiran di mal pada jam kerja atau pulang cepat. Sepertinya tidak ada pekerjaan saja di kantor.”

*my comment: ehm. Saya jadi bingung baca testimoni yang ini. Sebenernya mas yang satu ini mainstream nya kemana sih? Dari tadi mas2 yang lain meributkan dan (seolah) menuntut porsi lebih dari peranan wanita dlm rumah tangga, tapi kok yang ini…. Malah complaint ketika wanita justru tidak terlalu banyak menghabiskan waktunya di kantor? Weleh weleh…

9. SPG

Andri, 30, Peneliti

“Menurut saya pekerjaan ini menghambat perkembangan kecerdasan. Bagaimana tidak, kerjanya hanya menunggu pembeli tanpa banyak berpikir, kan?”

*my comment: Okay. Mas peneliti ini mestinya bikin penelitian tentang bagaimana mengembangkan kecerdasan SPG di kala mereka bekerja. Setuju?

Profesi Ideal Di Mata Mereka

1. Dokter

Selain bisa untuk mengobati keluarga, dokter bisa buka praktek di rumah. Memang ada dokter yang jam kerjanya padat, tapi pada umumnya jam kerja dokter teratur.

*My comment: asikasikasikasik.. klo punya istri dokter, bisa hemat biaya berobat sekeluarga seumur hidup. Siiiip siiiiip.

2. Psikiater

Profesi ini dianggap lebih pas dengan sifat dan naluri perempuan yang mau mendengar dan senang berbicara panjang lebar.

*My comment: well, memang pada dasarnya (kebanyakan) wanita memang mau mendengar dan senang berbicara panjang lebar. That’s why banyak wanita yang jadi tong curhat dan dipinjem kupingnya sama teman-teman mereka, dan hebatnya lagi, selain senang melakukan pekerjaannya, si mbak psikiater ini juga dibayar! (So, yang merasa pernah curhat dan konsultasi sama saya, tolong bayar tagihannya yaaa? Ayooo.. ayooo yang merasa??)

3. Arsitek, Desainer

Pekerjaan ini tidak terlalu banyak melibatkan fisik dan bisa dikerjakan di rumah atau home office. Memang sibuk, tapi bisa dibawa pulang karena sifatnya individual dan modalnya PC. Beda dengan akunting yang terikat data di kantor.

*my comment: I AM an Architect + plus + Designer. Tidak terlalu banyak melibatkan fisik? Hooo.. maksudnya kita nyewa surveyor dan fotografer untuk ke lapangan gitu apa gimana?

4. Guru

Jam kerjanya tidak terlalu panjang dan liburnya menyesuaikan dengan liburan anak-anak sekolah.

*my comment: I AM also a teacher. Hore!! Asikasikasik.. libur tlah tiba! Libur tlah tiba! Hatiku gembiraaaa..

Hmm.. asik,… saya menjalankan dua profesi ideal di mata pria. But it doesn’t automatically turn me into an ideal woman to a man. I’m far cry from ideal. Semua kembali kepada pribadi masing2 individu. Even wanita yang tidak punya kerjaan apapun, kalau enggak punya visi dan misi dalam rumah tangga, ya susah juga untuk membina rumah tangga. Semua tergantung sama niatnya. (^_^)

Chic’s Note

Ladies, tulisan ini hanya bermaksud menggambarkan kecenderungan umum, dan tidak bermaksud mengecilkan profesi apa pun. Anda pasti tetap akan bertemu seseorang yang mencintai Anda utuh-penuh. Apapun profesi yang Anda jalani.

Retno’s Note

Ladies and gents, sudah tugas manusia untuk bekerja dan mencari rezeki. Semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Never underestimate little things as they might turn to be a giant step afterward. Always have good intention in every single step you make as you will take responsible for it.

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (At-Thalaq QS. 65:7)

Advertisements