Monthly Archives: August 2008

Nabrak. Maki-maki. Kabur : wanita pengemudi BMW Hijau

Standard

Suatu hari pulang dari kantor di sentul menuju kawasan Jalan
Baru untuk mengajar, suasana di luar pintu tol Bogor daerah Baranang Siang agak tersendat.
Saya menjaga jarak dengan mobil depan, yaitu sedan BMW warna hijau seri 320 i.
It is one of my favorite cars. Dan sebelahnya juga ada seri yang sama, tapi tahunnya lebih anyar.

Sambil berhenti menunggu lampu merah, saya perhatikan mobil depan saya itu. Lalu… tiba-tiba mobil ini meluncur mundur dengan bebas tak terhenti. Saya refleks menekan klakson, tapi tidak ada suara yang keluar.
Saya baru ingat klakson mobil saya baru saja korslet kemarin. Damn. Ya sudah pasrah.

Dan.. Jduk. Mobil BMW hijau itu sukses mendaratkan bemper belakangnya dengan mobil milik bapak saya yang pada saat itu saya kendarai. Mau marah? Males. Siang-siang panas. Saya malas keluar mobil. Karena yakin mobil depan
yang salah, saya tunggu saja sampai dia nyamperin karena si pengemudi yang ternyata wanita itu sudah keluar dari mobilnya.

Saya buka kaca mobil dan siap-siap untuk mendengar kata-kata permintaan maaf [haha.. seharusnya saya
tidak begitu. Tidak baik menyuruh orang untuk minta maaf. Lebih baik kesadaran mereka sendiri]. Dan… bukan main kaget dan terkesimanya saya ketika si mba pengemudi BMW hijau itu malah marah-marah.

“Kok bisa nabrak sih??” kata si mba sambil bersungut-sungut.

Saya, yang pada waktu itu ‘on drugs’ karena habis meminum sirup obat batuk, merespon dengan lambat, “Mba mundur ya?” Tanya saya dengan intonasi yang, secara mengejutkan, terdengar lebih sabar dari si penabrak.

“Saya enggak mundur” kata si mba makin pedes.

“Saya enggak maju” kata saya yang masih sedikit lebih sabar.
Sungguh aneh diri saya waktu itu.

“Trus kok bisa nabrak?” si mba belagak bego.

“Enggak tau” kata saya, yang seperti orang mabuk, tersenyum.

“Yaudah beresin di depan deh” si mbak bertolak pinggang.
“Mundur dong” perintahnya lagi.

“Belok kiri aja di depan” usul saya.

“Enggak. Belok kanan” si mbak makin senewen.

Sebelum saya maju, mas penjual gemblong menghampiri saya dan berkata, “ Kan dia yang mundur..” dengan ekspresi wajah seolah bertanya-tanya, “Kan dia yang mundur, kok dia yang marah-marah???” saya hanya sanggup tersenyum [lagi].

Sebenarnya tersenyum lega karena ada saksi bahwa yang salah itu si Mbak, bukan saya. Padahal saya sempat ragu, jangan-jangan saya yang maju enggak kerasa, because I was on drugs. Sirup obat batuk sepertinya membuat saya linglung.

Setelah maju, ternyata si mbak BMW hijau tadi sudah berhasil melewati lampu hijau, sedangkan saya malah terjebak lampu merah lagi. Duh nasib. Sabar yaaaa..

Dan… dia pun kabur.

Sepanjang jalan saya berpikir:
1. what’s wrong with me? Kenapa saya ‘lemot’ sekali. Kok bisa-bisanya masih sabar abis ditabrak orang kayak gitu?

2. what’s matter with me? Kok saya ‘dudul’ banget, udah jadi korban, dimarah-marahin lagi. Dan gak ngelawan.

3. what the hell has happened to me? Kok saya ‘o’on’ banget, gak catat nomor polisi kendaraannya, gak menyita SIM, KTP, STNK, dompet or whatever her belongings untuk jaminan.

Sambil mikir, saya masih ingat untuk menelepon ke tempat mengajar bahwa saya akan datang terlambat karena baru saja jadi korban tabrak lari [wuih. Lebay abis. Hehe]

Sampe di tempat les, rasanya semakin “JengKol”. Jengkel dan Dongkol. Karena, selain si mbak BMW hijau itu menambah [sedikit] koleksi lecet di bemper depan mobil bapak saya, mbak tadi juga menyebabkan saya datang terlambat sehingga membuat murid-murid saya menunggu sambil mengerjakan tugas dari guru pengganti.

And above all, mbak tadi jelas-jelasan mengajarkan saya satu hal yang sangat patut untuk dihindari: “Udah salah, ngotot, marah, gak tanggung jawab, lagi.”

Pelajaran moral nomor 1: “Siapa salah, membentak duluan. Enggak banget deh.” Dan yang bikin sebel lagi, saya tidak menyetir secara ugal-ugalan, tapi justru lagi diam, ditabrak. Di bentak-bentak lagi.

Haduh… kerasukan apa saya siang tadi bisa-bisanya sabar [atau lemot] begitu? Padahal, klo dipikir-pikir, misalkan diulang seperti film yang di rewind, maka yang mungkin akan terjadi adalah: saya keluar mobil, saya
marah-marahin tu si mbak BMW hijau, trus saya sita SIM, STNK, KTP, dompet, lipstick, parfum, moisturizer, eyeshadow, lho..lho.. hahaha.. tapi kenyataannya bukan itu yang terjadi. Tapi saya lega. Karena kalau saya begitu, berarti saya kurang lebih sama gilanya sama si mbak BMW hijau itu.

Dan seorang bapak guru di tempat les menasehati saya dengan satu kalimat sakti yang membuat perasaan saya dari “JengKol” menjadi “PeTe”, Penuh keTenangan [he, maksa]. Kalimat itu adalah, “Biarlah, dia membuat dosa, Retno menghapus dosa.”

Astagfirullah.
Astagfirullah. Astagfirullahaladzim. Alhamdulillah wa syukurilah, cobaan yang saya hadapi masih ringan. Teguran agar lebih berhati-hati dalam berkendara. Allah telah menegur saya dan menunjukkan saya pelajaran moral sekaligus.

Well, buat orang yang [mungkin ada] baca ini, hm.. kalo ketemu ato kenal sama si Mbak BMW hijau, tolong bilangin, “Tanggung jawab dong??” hehehe.. becanda. Maksud saya, hati-hati berkendara di luar sana. Drive safe and responsibly.

Bagi saya, mungkin tambahan pelajaran bahwa apapun yang terjadi, bersyukur selalu menjadi aksi dan solusi terbaik.

Ohiya, tambahan pelajaran: jangan minum sirup obat batuk sebelum nyetir, separah apapun batuknya. It makes you go slow…hahahaha.

PS: hm, penggunaan merk mobil di atas bukan berarti mendiskreditkan atau menilai si pengguna atau pemilik atau pengendara mobil merek tersebut secara umum yaaa.. sekedar istilah untuk memudahkan bercerita.
Don’t get mad. Peace 😀